Halaman

Sabtu, 20 Februari 2016

Travel Story Part II (Pantai Santolo - Akhirnya Kau Ku Temukan)

Setelah melakukan perjalanan Ciamis-Pameungpeuk selama ± 7 jam. Pukul 11.00 kami pun tiba di pantai yang kami cari. Seperti yang sudah ku ceritakan, meskipun hari sudah siang tapi suasana di pantai ini amat sangat ramai. Pengunjung yang baru tiba terus berdatangan, sampai kami kesulitan untuk mencari tempat parkir beberapa saat. Pertama kali yang terlintas dalam benak ku ketika melihat suasana pantai adalah kata panas. Ya, selain karena matahari sudah berada di atas kepala di tepi pantai juga jarang ada pohon untuk tempai berteduh seperti di Pantai Pangandaran.


Setelah kami menemukan tempat parkir di ujung selatan pantai, kami segera berjalan menyusuri pantai. Dan ternyata, tempat wisatanya itu bukan hanya pantai sepanjang parkiran saja. Tetapi ada tempat lain yang harus kamu kunjungi jika kesana, lebih tepatnya sebuah pulau. Pulau yang menjadi nama pantai ini, yupz ialah Pulau Santolo.


(Pintu masuk ke Pulau Santolo)

Untuk dapat menginjakan kaki di pulau ini, kita harus menyebrang sungai –yang belakangan ku ketahui namanya Sungai Cilaut Eureun. Lebar sungai ini hanya sekitar 100 meter. Kita bisa menyebrang dengan naik perahu penduduk setempat. (Atau kalau suka tantangan, berenang juga boleh lah)Untuk ongkos naik perahu pergi dan pulang (baca: PP) kita hanya perlu merogoh koceh 4000 rupiah per orang.


Menurut cerita, pulau ini menjadi salah satu urat nadi perekonomian yang dibangun kolonial Belanda di wilayah selatan Jawa Barat lho. (lebih lengkapnya kalian bisa searching sejarah pulau Santolo)
(perahu penduduk setempat yang bisa kita sewa untuk menyebrang ke Pulau Santolo)

Berbeda dengan pantai sebelah utara, di Pulau Santolo suasananya lebih teduh. Hal ini disebabkan karena di pulau santolo lebih banyak pepohonan daripada di pantai utara. Sesampainya di sana Pak Ketu segera mencari tempat peristirahatan. Di pulau ini memang disediakan puluhan saung (bahasa Indonesia = balai) bambu untuk tempat beristirahat para wisatawan. Karena beberapa menit lagi akan memasuki waktu dzuhur, jadi kami mencari saung peristirahatan yang dekat dengan mushola. Kami mengistiratkan tubuh sejenak. Tubuh yang lelah setelah mengendarai motor selama 7 jam ditambah terpaan angin pantai semilir terasa sangat menggoda mata untuk  terpejam disana.

Sebagian teman ada yang langsung berkeliling menyusuri pulau, sebagian memilih untuk merebahkan tubuh di balai dan membuka bekal dan sebagian lagi ada yang langsung menyerbu toilet seperti yang ku lakukan. Teh Vitra yang sempet sakit diperjalanan juga ikut mencari toilet. Setelah adzan tiba kami mencari mushola. Namun sangat disayangkan, mushola yang kami temukan benar-benar tak terawat. Sebenarnya tak hanya mushola, semenjak pertama kami mengijakan kaki di pulau ini, mata kami langsung disuguhi oleh tumpukan sampah laut. Alhasil, keindahan pasir putih pantai terkalahkan oleh sampah yang berserakan.

Selesai sholat, aku kembali ke tempat teman-teman. Ingin sekali rasanya tidur, tapi kalo jauh-jauh dari Ciamis datang ke Pulau ini cuma untuk tiduran kan jadi mikir ulang. Jadi, kuputuskan untuk berkeliling pulau bareng Ina. Ada yang unik dari Pulau Santolo ini. Pantainya berupa batuan karang.
(Salah ambil tempat -_-, sampahnya keliatan ckckck)

(Kalo berfoto di terumbu karang, hati-hati ya! Asli, Terumbu karang disini tajam-tajam)

Puas berfoto di terumbu karang, kami kembali menyusuri pulau. Banyak pedagang dan penjual souvenir yang kami temui. Ingin rasanya membeli, tapi mengingat bekalku yang pas-pasan terpaksa ku kubur keinginanku dalam-dalam. Setelah berjalan sekitar 300 meter, kami menemukan satu tempat indah untuk berfoto. Aku sama Ina yang notabene anak narsis yang suka difoto, segera menyerbu tempat tersebut dan melakukan beberapa gaya


 


 
(selain karena aku takut ketinggian disini angin lautnya juga gede banget, aku sama Ina agak kerepotan menanganinya. Jadi fotonya ngga seindah view mata kita, hmm)

Setelah puas, kami kembali ke base camp peristirahatan. Sepertinya masih banyak tempat indah yang wajib kami telusuri disana. Tapi karena sebelum penelusuran kami diwanti-wanti sama Teh Vitra supaya ngga pergi jauh-jauh, jadi terpaksa kami harus segera kembali kesana.


Baca juga 


Jumat, 19 Februari 2016

Travel Story Part I (Pesona Alam Garut Selatan)

Haii blog walkers! Aku punya cerita. ^_^
*Sebenernya lagi males nulis, tapi berhubung daya ingatku rendah. Jadi kalau cerita-cerita amazing tak ku tulis, besar kemungkinan cerita itu akan hilang dengan mudahnya. Duh kalau sampe lupa, sayang banget kan. Makanya biar kata males-males plus masih menikmati sensasi pegel-pegel, aku tetep maksain nulis cerita ini. Oke check it out!

Ini cerita tentang traveling ku ke Pantai Santolo (ada yang tau Pantai Santolo?? Hm,, Kalo gitu… sama. Awalnya aku juga ngga tau. Haha) Itu lho yang pantai selatan letaknya di Pamengpeuk. (Kalo kata Pamengpeuk kayaknya sering denger ya?) Yupz, Pamengpeuk Kabupaten Garut. 

(Kalo kalian searching, kalian bakal nemuin gambar ini –Pantai Santolo. Gimana? Pantainya keren kan?)

Ceritanya, anak-anak di tempat ku kerja berencana mengisi hari minggu -7 Februari- yang indah ini dengan liburan ke pantai tersebut. Rencana awal sih, ke Pangandaran, Citumang tapi dengan beberapa alasan dan berbagai pertimbangan -yang aku ngga tau- akhirnya, anak-anak memilih untuk touring ke Garut Selatan.

Pas di kasih tau temen-temen mau liburan, aku semangat banget untuk ikut. Karena liburan panjang akhir tahun kemarin aku ngga berlibur sama sekali (suci, suci, kasian banget sih kamu) Tapi mendekati hari H minatku untuk ikut semakin berkurang, alasannya:
  1. Hari minggu sebelumnya -31 Januari- aku diajak liburan ke Pantai Pangandaran. Jadi hasrat berlibur ku sudah banyak terpuaskan.
  2. Lagi ngga enak badan setelah beberapa malam kurang tidur gara-gara mengerjakan kumpulan administrasi buat PPL.
  3. Ini yang paling utama, lagi terkena penyakit kanker kronis alias boke tingkat dewa :( duh, ckckck
Jadi pas dikasih konfirmasi, temen-temen mau touring ke pantai Santolo aku jadi mikir ulang.

Tapi ketika hari Sabtu aku pulang dari sekolah, ternyata ibu udah nyiapin selengkap-lengkapnya perbekalan. Mulai masak ayam, masak lontong, sampai buat bolu khusus untuk anaknya tersayang –perhatian banget kan ibuku ini :)- Kalau aku batalin, wah bahaya. Seengganya mungkin ibu bakal sedikit kecewa, temenku yang ngajak juga –Ina, namanya- pasti ngga bisa berangkat soalnya kita bakal touring pake motor sementara motornya udah pas berpasangan. Ditambah aku yang memang sedikit penasaran dengan alam Garut Selatan. Jadi ya terpaksa, ku putuskan untuk ikutaan. hehe

Awalnya sempet takut, seperti pertama kali mau berangkat ke Bandung tahun lalu. Takut rutenya penuh tanjakan sementara musuh terbesar motorku itu, ya tanjakan. Takut ketinggalan, soalnya kalo konvoi sama temen-temen kerja itu serasa lagi di arena balapan dan aku selalu dapet posisi yang terakhir. (Ngenes kan?) Hmm. Tapi aku ingat satu hal, bahwa 80% ketakutan itu hanya ada dalam pikiran, ngga pernah terjadi. (Jadi, Ayolah suci, come on! Berani. Berani. Berani)

Ina sempet nawarin pake motor barunya. Tapi aku ragu. Setidaknya aku punya beberapa pemikiran. Bawa motor sendiri itu tetep lebih nyaman daripada bawa motor orang. Kita tau kelemahan dan kekuatan motor kita dimana. Jadi kita bisa mengendarainya dengan lebih bijaksana. Truz motor Ina kan motor baru, kalo terjadi apa-apa takut ngga bisa bertanggung jawab (baca: pengecut ya)

Kami berangkat pukul 4 pagi. Pas berangkat, aku sama Ina akhirnya dipisah. Ketua rombongan -Wildan- mungkin merasakan hal yang sama, takut motorku ketinggalan. Jadi dia nyuruh anak prakerin –Lukman- buat bawa motorku, sementara aku? Dibonceng aja ya. Aku percaya Lukman bisa ngebut bawa motor dengan catatan kalo motor biasa. Tapi kalo bawa motorku, sepertinya aku ngga bisa percaya gitu aja. Secara, motorku kan luar biasa. Aku bilangin kelemahan motorku. Dia cuma manggut-manggut aja. Ya udah terpaksa, aku berusaha percaya.

Baru berjalan sekitar 2 km, rombongan berhenti di pom bensin. Sementara aku seperti biasa, ketinggalan. wkwkwkwk. Lukman kesulitan ngoper gigi guys. Di pemberhentian ke 2 pun sama, temen-temen yang lain terpaksa nungguin aku sama Lukman. Disini Lukman sempet kena semprot teman-teman gara-gara selalu ketinggalan. Ckckck. Kasian juga sih tapi udah berkali aku bilang, kalo Lukman ngga sanggup jangan dipaksa, biar aku yang bawa. Tapi Lukman tetep maksa bawa. Hingga akhirnya di pemberhentian ke 3 –setelah kita solat subuh- Lukman menyerah haha. Dia sempet minta temen yang lain buat bawa, tapi ngga ada yang bisa (baca: ngga ada yang mau ya). Ya udah aku maksa rebut kendali secara paksa. Mungkin dia khawatir, aku ngga bisa bawa. Hmm dia belum tau aja, biar gini-gini juga aku kan adeknya A Vale. Right? :)

(Bergaya dengan motorku tersayang :))

Setelah melewati pemandangan indah -entah dimana- yang pasti ada tugu perbatasan Kab. Tasik, rombongan berhenti lagi untuk yang ke 4 kalinya. Dua motor tertinggal, karena ada motor yang bannya bocor. Jadi kita nunggu mereka sambil sarapan. Tapi karena bocornya masih di jalur hutan, jadi mereka kesulitan menemukan bengkel untuk tambal ban. Ahkirnya, Pak Ketu memutuskan untuk menunggu mereka di depan, di jalur potong –aku ngga tau nama tempatnya apa. Dan kami pun berhenti di sana.

Setelah menunggu sekitar 20 menit. Yang ditunggu  –motor A Juju sama Iskandar- pun tiba.  Sebelum melanjutkan perjalanan, Wildan sempat minta Lukman bawa motorku kembali. Katanya jalannya rusak, berbelok-belok pula. Tapi kalo Lukman yang bawa, aku yang khawatir. Di jalan yang lurus aja, dia kerepotan ngoper gigi, apalagi di jalan rusak. Jadi aku minta sama Lukman, biar aku yang bawa. Lukman pun akhirnya setuju. (Aku penasaran, emang jalannya serusak apa? Kalo belum se-ekstrim jalan Tanjung Sukur-Rajadesa kayaknya aku masih bisa. Dan ternyata benar, rusaknya masih level biasa)

Di sepanjang jalan yang kata Wildan rusak itu, mata kami kembali disuguhi oleh pemandangan yang tak kalah indah dari pemandangan pegunungan Himalaya :) Setelah sekitar 20 km berjalan, kami kembali berhenti untuk yang ke 6 kalinya di sebuah pom bensin –entah dimana. Karena sepertinya Pak Ketu juga belum tau arah menuju Pantai Santolo kemana. Ckckck. Tersesat? Ngga lah. Kita kan bocah-bocah petualang haha. Setelah 5 menit beristirahat dan berfoto dengan background pegunungan, kami pun melanjutkan perjalanan.

Di rute selanjutnya, kami mulai memasuki kawasan berkelok. Pertama kali yang membuatku takjub ketika melewati kawasan ini yaitu ketika melihat sebuah ‘gunung batu’. Ya sebuah batu besar, karena saking besarnya batu itu lebih mirip gunung batu. Tapi asli lho, subhanallah sekali.

Dan belum selesai kami dibuat takjub dengan fenomena alam tersebut, mata kami kembali dimanjakan dengan pemandangan yang indah luar biasa. Saking indahnya, saya sulit mengungkapkannya dalam kata-kata. Dari mulai perkebunan teh yang membentang sampai  air terjun semuanya kami temukan disana. Pokoknya indah luar biasa. Banyak lho, orang-orang yang berhenti di sepanjang jalan sana untuk sekedar menikmati keindahan dan berfoto ria bersama rombongan.
 
(diantara sebagian keindahan perjalanan menuju Pantai Santolo Pameungpeuk-Garut)

Kami juga sempat berhenti -sambil menunggu teman yang tertinggal- untuk mengabadikan moment di tempat yang langka ini. Tapi sayang, pak ketu sepertinya kurang tepat memilih  tempat pemberhentian. Jadi indahnya kawasan ini tak terlalu nampak.


Setelah rombongan lengkap dan puas berfoto. Kami melanjutkan perjalanan. Meskipun kami tak tau posisi kami berada dimana, tapi dapat diperkirakan perjalanannya kami tempuh masih panjang. (Tau darimana?) Ya, tujuan kita kan mau ke pantai, sementara kita masih terdampar di daerah pegunungan. Tanda-tanda ada pantai aja belum keliatan. Ckck *Sekedar informasi, ketika kami berhenti di sana. Waktu sudah menunjukan pukul 09.30.

Dan ternyata ehh ternyata, rute mengular -pegunungan itu- panjang sekali. Dan apesnya kantong bekal makanan dan air yang ku bawa dari rumah jatuh di tengah jalan. Mau puter balik buat ngambil, pasti makin ketinggalan rombongan. Ngga diambil, inget sama ibu yang udah nyiapin bekal itu dari jam 2 malam. Tapi, daripada ketinggalan rombongan akhirnya ku relakan bekal ku tergeletak begitu saja di tengah jalan. Pikirku, toh aku masih punya kue dan lontong buat cadangan makanan kalo nanti aku kelaparan. (Maafkan anakmu yang tak bisa menjaga bekalmu bu)

Satu jam berjalan, lumayan juga pantat udah panas gara-gara duduk kelamaan. Ditambah salah satu personil –Teh Vitra- sakit, jadi kami pun kembali berhenti untuk beristirahat. Karena lapar, kami kembali membuka bekal. Aku sendiri, waktu itu nyari bengkel buat nambah angin. Sambil nanya ke penduduk sekitar, ternyata perjalanan menuju Pantai Santolo masih jauh katanya sekitar 15 km lagi. Dan satu fakta yang kembali kami temukan, jalur yang kami tempuh ini memang berputar. Kalau dari Ciamis, ngambil jalurnya lebih dekat Jalur Tasik-Pamijahan-Cipatujah. (Ohh pantes aja udah hampir 7 jam kita belum nyampe juga, ternyata emang salah ambil jalur katanya. Ckckck) Tapi ada untungnya juga sih, kita jadi tau di dunia yang mulai panas ini masih ada tempat-tempat seindah tadi :)

Pada permberhentian ke 9 ini sempat terjadi insiden kecil, motor anak prakerin –Iki- nyenggol mobil. Ngga sampai terjadi apa-apa sih, tapi cukup membuat Ina nangis gara-gara shock. Akhirnya Ina pindah ke motorku dan Lukman pindah ke motor Iki. Setelah sekitar 15 menit beristirahat kami pun melanjutkan perjalananan.

Sekitar setengah jam perjalanan dari pemberhentian terakhir, kami menemukan tanda-tanda daerah pantai –udara mulai terasa panas dan banyak sungai. Akhirnya, setelah 7 jam perjalananan kami sampai juga di pantai yang kami cari, Pantai Santolo. Rasa senang ketika menemukan tulisan ‘Selamat Datang di Kawasan Pantai Indah Santolo’ sampai saat ini, masih bisa kurasakan. Bagaimana tidak, tujuh jam perjalanan yang kami tempuh cukup membuat ku kelelahan. *fiuhh

Kami membeli tiket masuk. Harganya 6000 per orang (Murah ya?) Sambil menunggu personil lengkap kami menepi di dekat pintu masuk. Dan ternyata biar hari sudah siang, para pengunjung yang masuk masih ramai. Itulah cerita perjalanan keberangkatan yang amat melelahkan.

Baca juga: 

Minggu, 20 Desember 2015

PIZZA


Dari hari jum’at kemarin –entah apa sebabnya- emah sama bapak ngidam pengen camilan. Dan selera camilan mereka ngga tanggung2 guys, pengen donat atau pizza. Hmmmmm *langsung garuk kepala deh pas denger permintaan mereka. Ckckck 

Dan aku baru bisa mengaminkan permintaan mereka hari minggu, kemarin.

Sebenernya kedua permintaan mereka berasal dari spesies yang sama -semacam kue atau roti. (pas aku searching, bahannya juga hampir sama) Cuma bedanya, kalo donat udah sering nemu karena sering buat. Tapi kalo pizza (jujur) dari sejak pertama makanan yang satu ini masuk ke Indonesia, emah sama bapak belum pernah ngerasain apa itu yang dinamakan pizza. So, mereka penasaran banget sama makanan western yang satu ini. (Kalo aku? Hmm, sebenernyaa ngga jauh beda sih sama mereka. Baru nyicipin pizza KW nya aja. Hahaha)

Pikirku, kalo harus beli lumayan jauh ya, harus ke Tasik. Males.(aku ngga tau di daerah ciamis yang jualan pizza dimana). Dan pas hari jum’at, kebetulan temen fbku ada yang ngepost beberapa resep pizza. Langsung aja postingannya aku copy paste. Hehe. Jadi sekalian untuk menghemat biaya, ku putuskan untuk membuat pizza sederhana.

Dengan berbekal resep dari postingan temenku itu. Ku persiapkan bahan2 dan mulai meraciknya. Namun sayang, kali ini aku kurang beruntung. Resep yang ku copy ngga terlalu jelas. Oke, dari cara buat adonan sampe buat topping aku faham. Tapi cara masaknya, asli ‪#‎gagalfaham‬ Redaksi di resepnya cuma tertulis kayak gini: “Panaskan teflon lalu masukkan tepung adonan tadi dan olesi toping diatasnya. MASAK kurang lebih selama 15 sampai 20 menit dgn api kecil”

Di sana cuma ditulis “MA-SAK” (tanpa dijelaskan). Masaknya digimana coba? Digoreng? Ditumis? Dipanggang atau dibakar? Hmm. Gimana? Ada yang tau? Aku, No. Ngga tau. Dan karena pengetahuanku tentang pizza yang pas2an. Jadi (terinspirasi dari cara buat dadar gulung) pizza nyaa, aku tumis.

Alhasil, pizza pertama >> gosong tapi ngga mateng. Pizza kedua >> kayak cireng. Dan pizza yang terakhir >> mirip telor dadar. Huaa. Ngga ada yang bener :”)

Dan inilah testimoni para korban yang dipaksa nyicipin pizza ala Suci Azkiya:
Emah: “hmm. Uciii ieu maah lain pitsa mereun CUPA-CUPAA” 
Bapak: “Ieu téh pitsa? Gening teu ngabarabay jiga di tipi2?” 

Hahaha. Untung topping sausnya ngga mengecewakan. Jadi pizza perdana nya bisa terselamatkan. Terakhir, ingat ya! Pizza ituu cara masaknya, dipanggang BUKAN DIGORENG apalagi ditumis wkwk
Maaf ya Emah, Bapak, anakmu ini sudah mengecewakan. Lain kali aku bawain pizza yang asli. Insya Allah 

Itulah sekelumit kisah pembuatan pizza pertamaku. Gagal dikit, gpp ya. Namanya juga belajar. Next time bisa coba lagii. Inii ‪#‎pizzaku‬ ‪#‎BukanTelorDadar‬



Selasa, 08 Desember 2015

-ANTARA AKU, BIBI DAN MOTORKU-

Selalu ada hikmah dalam setiap musibah dan terkadang ada hal yang bisa buat kita tertawa dalam sebuah cerita. *Hubungan nya apaa? dimanaa?  (Hm, Oke! ngga ada) Tapi tadi pagi saya punya cerita. Entah cerita apa. Tapi yang jelas -setelah terjadi- cerita ini bisa membuat saya tertawa diatas kepedihan yang sedang saya rasakan. Dan inilah kisahnya..

Pagi ini saya berangkat 10 menit lebih pagi dari biasanya. Pukul delapan kurang dua puluh. Karena seperti yang telah diceritakan pada status sebelumnya, motor saya bermasalah. Ya bermasalah, ban nya kempes guys fTapi, karena jarak bengkel dari rumah saya cukup jauh (sekitar 500 meter lah). Sehingga dengan sangat terpaksa, motor kempes itu tetep saya naikin. Pikir saya, masa harus ke bengkel jalan kaki sambil dorong motor sejauh itu (kan OMG).

Dalam hati, saya berdo’a “Motorku sayang, kuat ya sampai bengkel pertama. Aamiin”. Namun ternyata, dipersimpangan pertama, ada seseorang yang mematahkan do’a saya. Tepatnya, bibi tetangga. Dan ketika saya ngasih klakson, tanda bilang punteun. Tiba2 si Bibi nyetopin motor. “Eh, ada teh uci. Ikut numpang ya bentar, ke depan. Males jalan nih” pinta si Bibi sambil tersenyum.

Ceritanya si bibi ini mau ke Desa. Jaraknya? deket sih (sekitar 100 meteran lah dari persimpangan sana). Iya jaraknya deket, kalo ditempuh dengan keadaan motorku yang baik2 aja. Tapi kali ini, ban nya lagi kempes kawan *catet: ban nya kempes. Dan seketika konflik batin pun terjadi.

Dalam hati, “Aduh bi, bukannya nya ngga mau. Tapi ban saya, nasibnya nanti gimana.” | Tapi nurani bilang, “Aduh ci, orang minta bantuan masa ditolak. Kan kasian.” *Untungnya waktu itu saya pake masker, jadi si Bibi ngga liat (emot) konflik batin saya* | Dan ketika saya belum sempat menjawab sepatah kata pun, si Bibi udah ada tepat di belakang saya, “Ngga papa ya teh, ikut?” |Sambil (berusaha) senyum “Oh-Eh, iya bi ngga papa. Naik aja.”

Dalam hati saya bisikin ke motor saya, “Motor, maaf! bukannya aku kejam. Tapii kamu jangan malu2in, kuat ya bonceng kita berdua sampe depan”. Kan ngga lucu kalo motornya sampe ngga bisa jalan gara2 udara dalam ban nya bener2 abis karena dinaikin boncengan.Terus nanti si bibi nya pasti ngerasa ngga enak. Dan Kau tau, saya tak mau itu terjadi Tuhan.

Seperti yang tadi udah saya bilang, jaraknya deket kalo ban nya baik2 aja. Tapi kali ini, jarak tempuh 100 meter serasa jauh banget-karena ban nya lagi sakit. Saya jalan pelan, berharap si bibi ngga ngerasa keanehan pada motor saya yang jalannya mulai “gurual-gareol”. Untung selama dijalan, si bibi nya ngajak ngobrol.
“Teh udah siang, kok baru berangkat?” | “Iya Bi, kesiangan. Hehe” (Jujur, dalam hati saya cemas Takut ketauan bannya bermasalah, takut si bibi ngerasa ngga enak dan takut-takut yang lainnya)
Dan akhirnyaa, Alhamdulillah! sampai juga di tempat tujuan.

“Nuhun ya Teh” | “Iya bi. sama-sama”
Dalam hati “Ya Tuhan, semoga si bibi ngga nengok lagi ke belakang. Kumohon. Saya ngga mau dia ngerasa bersalah setelah liat keadaan ban ku yang semakin mengenaskan.”

Untungnya di akhir cerita, ada bibi yang lain yang langsung nyambut dan ngajak ngobrol. Saya pun, langsung kabuur. Dan bisa bernapas sejenak -walau belum lega- karena harus cepet nyari bengkel sebelum ban saya benar2 kehabisan nyawa.
Hahaha itulah cerita saya pagi ini kawan. Saya Suci Azkiya, jangan lupa tersenyum dan semoga bahagia.

Selasa, 24 Maret 2015

My Travel ^^



Kemarin tanggal 9 Maret –kemarin nya lama banget ya- aku pergi ke Kuningan. Niatnya sih mau nengok bapaknya Teteh. Karena sebulan yang lalu beliau sakit, tapi kita (keluarga aku maksudnya) baru sempet dan (yang paling penting) baru punya uang tangal 9 kemarin. (lama banget yaa. Pas kemaren ditengok juga udah sembuh).  Tapii ngga papa ya, silaturahmi aja. ^^

Emah (ibu.red) pergi sama bapak naik angkutan umum. Sementara aku pergi naik motor (biasa, sama bestfriend ku) Teh Sari. Bagi yang udah pernah lewat jalur Ciamis-Cirebon pasti udah pada tau kan rute nya gimana, MENGULAR. ckck.  Buat yang suka mabuk di perjalanan, rute ini cocok banget buat mereka. Untungnya aku sama Teh Sari bukan tipikal ‘pemabuk’. Jadi, alhamdulillah jalannya aman-aman aja. Malah sempet-sempetnya Teh Sari sarapan di perjalanan. Aku lagi fokus berjuang di jalanan, eh dia malah makan gorengan. Teer.. la. lu

Berpetualang di Gedung Perundingan Linggarjati

Pasti nya brother and sista udah pada tau dong tentang Perundingan Linggarjati. Jadi.. aku ngga perlu jelasin ya. Tapii nggak ding, karena aku posting tentang gedung Perundingan Linggarjati, setidaknya aku tetep harus kasih info. Tapi dikit aja ya.

Perundingan Linggarjati adalah sebuah langkah negosiasi antara pemerintah Indonesia dengan Belanda di Linggarjati, Kuningan, Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan ditandatangani secara sah kedua negara pada 25 Maret 1947. (Kalo pengen sejarah yang lengkapnya, cari sendiri aja ya)  Yang aku tahu, perundingan ini menimbulkan pro-kontra. Soalnya salah satu isi perjanjiannya menyebutkan, bahwa Indonesia akan menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat). Dimana dalam bentuk RIS, Indonesia harus tergabung dalam commonwealth atau Persemakmuran Indonesia-Belanda dengan mahkota Negara Belanda sebagai Negara  Uni.

Jangankan para pahlawan yang udah berjuang mati-matian untuk Indonesia, aku aja yang nggak bisa apa-apa kayaknya ngga rela dan ngga mau jadi anggota persemakmurannya Belanda. ^^

Bagi yang belum tahu gimana bentuk gedung perundingannya. Aku punya gambarnya. Ini dia, tadaa



 



Untuk biaya masuk, harganya cukup murah lho. Murah banget malahan. Pas banget lah buat orang kayak aku. Wkwkwk. Kita berempat (Aku, Teh Sari, Adel sama Bio) cuma bayar 5.000 rupiah aja. Murah banget kan. Per orangnya, terbilang bayar 1.000 rupiah. 1.000 lagi, buat biaya parkir kali ya.  Soalnya aku ngga dikenain biaya parkir.

Gedung nya cukup terawat, bersih malah. Tapi sayang, pengunjungnya kurang. Jadi serasa ada atmosfir-atmosfir mistis gitu. Penjaga nya juga aneh banget, masa dia ujug-ujug muncul gitu aja truz baik banget lagi (ngebolehin kita foto-foto, malah dia sempet motoin kita berempat). Padahal kan biasanya, di tempat-tempat Cagar budaya (kebanyakan) di beberapa tempatnya dilarang ngambil gambar atau foto. Tapi disini mah boleh-boleh aja, si bapak penjaganya tau kali ya kalo kita seneng berpose.
 

(foto fertama di depan miniatur ruang perundingan)

miniatur perundingan  (yang tadi ada di belakang kita)
 

Tempat perundingan dilaksanakan.

 


Ini salah satu kamar penginapan para perwakilan perundingan. Horornya, disini Bio nemuin darah di wastafel. Ngga tau darah apa, tapi jujur aku sebel sama penjaganya. Kenapa ngga dibersihin coba. Bulu kudukku sempet berdiri waktu Bio dengan polosnya ngira, “Itu darah setan kali ya?”. Dasar anak kecil, ngobrolnya polos banget. Ngga nyadar tempat nya serem apa.  :(

Kita sempet keliling-keliling ruangan. Banyak foto, poster dan tulisan-tulisan penting yang dipajang disana. Tapi karena aku bawa De Bio. Jadi gga sempet bawa apa-apa. Soalnya dia malah lari-larian di gedung itu. Aku takut dia ngerusak sesuatu. Jadi wisata sejarahnya cuma dipake buat ngejagain anak kecil itu. Ckck.



                                                                   (Ruang makan)

Tapi.. fotonya ngga jelas ya. Aku sempet ketawa disini. Soalnya Adel juga dengan polosnya nanya, “Bi mereka makan bendera ya?” Soalnya di lemari tempat makanan tersimpan beberapa bendera negara  peserta perundingan.

Setelah puas liat-liat di dalam gedung, kita keliling-keliling deh. Aku punya beberapa dokumentasi. Liat ya! ^^
 
(taman samping-selatan)

(taman samping-selatan)
 

 (taman samping-utara)


(Gedung tampak samping)


(taman gedung-depan)



(Gedung-samping)



(taman gedung-samping)



(Gedung belakang)

Akhirnya, selesai  juga penjelajahan kita di Gedung Perundingan Linggarjati. Kita pulaang. 
See you on next travel.. ^^