Senin, 29 Februari 2016

Travel Story Part III (Tambal Ban)

Tak terasa, cuaca semakin panas dan mentari sudah semakin barat. Mengingat perjalanan Ciamis-Pantai Santolo cukup memakan waktu (berarti kebalikannya juga ngga terlalu berbeda) Pak Ketu menginstruksikan agar kami segera berkemas.

Sambil menunggu perahu yang akan membawa kami menyebrang. Kami kembali berfoto di gapura pintu masuk ke Pantai Santolo.
(Dari kiri ke kanan: Holiz, Teh Vitra, Ina, Dikri, Aku)


Setibanya di parkiran, aku mendapati motorku sudar bergeser dari tempat semula. Tak masalah sih, mungkin tadi lagi banyak kendaraan tapi yang ku sayangkan bergesernya itu lho ke tumpukan sampah.

Perjalanan pulang, aku kembali boncengan sama Ina. Baru beberapa meter berjalan, aku ngerasa motorku jalan sempoyongan. Setelah aku cek, bener aja, ban belakangnya udah kehilangan angin level akut alias kempes berat. Terpaksa aku harus nyari rumah sakit ehh bengkel terdekat. Untung aja pas aku nanya, bengkelnya ngga jauh sekitar 100 meter dari pintu masuk. (Temen-temen kemana?) ya, aku paksa buat nungguin lah. Haha ngga deng, tanpa aku pinta mereka care (baca:terpaksa) kok nungguin aku kkkkk *terharu. Setelah diperiksa ternyata bannya emang bocor tertusuk paku kecil. Kayaknya dari tumpukan sampah tadi di parkiran. Alhasil banku harus, ditambal.

20 menit menunggu, tambal ban selesai. Kita segera capcus dari pantai santolo untuk pulang. Kita ngga ambil rute pegunungan yang tadi lagi. Tapi kali ini kita mau ambil rute tepi pantai cipatujah-pamijahan. Dan sesuai kesepakatan, pak ketu diminta untuk berhenti di pom bensin pertama yang kami temukan. Apesnya, di pom ini kendaraan yang mau ngisi bensin lagi penuh guys. Aku kehilangan jejak teman-teman, akhirnya aku (terpaksa) mengantri di antrian yang panjang -_-

Dan ternyata anak-anak yang lain pinter banget cari antrian. Aku masih diantrian ke enam. Anak-anak udah pada nungguin aja dipinggir jalan. yang bikin kezel, kendaraan udah antri panjang tapi itu petugas pom nya malah main-main sambil cengengesan. *huffftt Lagi-lagi aku jadi subjek yang ditunggu, ngeLAMAin. *pas waktu itu dalam hati aku bilang, kawan-kawan, maaf ya! Sayangnya, aku anak baru yang masih belum akrab sama mereka, jadi Cuma berani bilang di dalam hati aja.

Setelah semua personil lengkap, kami segera meluncur. Pas kami berangkat dari pom bensin pas adzan ashar berkumandang lho! Berarti, waktu kita berangkat, sekitar pukul 3 sorean. Waktu itu, sholat ashar kami udah dijama’ sama dzuhur ya. Jadi ngga lagi cari mesjid buat sholat ashar.

Pertama kami memasuki rute “tepi pantai” ternyata rute nya emang bagus. Selain jalannya mulus, karena masih termasuk dataran rendah jadi jalannya juga lurus –ngga terlalu banyak belokan atau tanjakan ya. Tapi disepanjang rute ini minim perumahan, yang ada Cuma perkebunan karet nan rindang sepanjang perjalanan.

Jalannya juga cukup sepi, cuma dua-tiga kendaraan yang kami temui di jalan. Dan seperti biasa aku mendapat posisi terakhir, yang dapet posisi pertama, biasa Pak Ketu yang balapan sama Holiz ama A Juju. Untung A Adul, Iskandar sama anak prakerin berkenan ‘menurunkan’ kecepatan jadi aku masih bisa ngimbangi mereka.

Setengah jam berjalan, anak prakerin –yang dapet posisi 2 terakhir- menepikan motornya. Ban mereka ternyata bocor. Aku yang pada saat itu, jadi saksi berusaha jadi pahlawan buat nyari bantuan. Maksudnya, mau ngejar temen2 yang udah pada lari duluan, atau kalaupun ngga bisa ke kejar paling ngga aku berharap menemukan bengkel atau rumah warga yang bisa dimintai bantuan.

Beruntung diantara motor A Adul sama iskandar ada yang nengok spion. Jadi ada yang tahu kalo 2 motor di belakang menghilang, mereka pun berhenti di tikungan sekitar 200 meter dari tempat kejadian. Aku sempet ditawarin ngelanjutin perjalanan duluan. Tapi aku ngga mau, iya jalannya lurus-lurus aja tapi rutenya sepi, jarang rumah, Cuma ada pekebunan kalo ada apa-apa sementara pasukan yang di depan belum kekejar dan mereka yang di belakang masih belum keliatan. Kan cuma aku sama Ina yang jalan sendirian. Oh, tidak.tidak.tidak. Aku lebih baik nunggu tambal ban.

50 meter dari tikungan, kami menemukan sebuah rumah sekaligus warung dan bengkel. Alhamdulillah, bahagianyaa. Sambil nunggu ban anak prakerin ditambal, kami beristirahat dan jajan. Disini, waktu menunjukan pukul setengah empat sore. A adul bilang, takut kemalaman di daerah sini. Bahaya katanya rawan begal. Asli, pas a adul bilang gitu aku makin takut, selain awan sore semakin mendung. Aku kan selalu ketinggalan. Do’aku dalam hati, “Ya Allah, selamatkan kami. Aamiin. “

Tapi ternyata tak hanya rombongan kami yang mengalami kempes ban, tak lama setelah kami berhenti disana ada juga rombongan pemancing yang bannya juga kempes. Aku jadi ngerasa ngga sendirian. Ternyata kalo mau lewat rute ini emang harus siaga. Bensin  harus full, motor harus oke karena kalo ada apa-apa kita bakal kesulitan nyari bantuan.

15 menit menunggu, tambal ban selesai. Kami melanjutkan perjalanan. Selama di jalan lurus, aku berusaha di posisi depan. Meskipun pada akhirnya aku selalu disalip apalagi ditanjakan, ngga papa asal aku ngga terlalu ketinggalan.

Hari semakin sore dan awan semakin mendung. Dan ternyata rute perkebunan ini panjang banget. Setengah jam berjalan, kami menemukan motor pak ketu, holiz dan a juju yang menunggu di sekitar daerah cipatujah. Dan sepertinya rute perkebunan berakhir disini, kami mulai menemukan beberapa rumah dan tanda-tanda kehidupan. Kami juga sempat melihat pelangi yang membentang di awan cipatujah, subhanallah indahnyaa. (y) :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar