Senin, 29 Februari 2016

Travel Story Part IV (My Trip - Antara Petualangan dan Perjuangan)


Setengah jam berjalan, awan mendung rupanya tak mampu lagi menahan air serapan. Sehingga kami mulai dikeroyok gerimis kecil. Pak Ketu akhirnya menepikan rombongan. Sebagian ada yang pake jas hujan, sebagian lagi ngga. Aku sendiri ngga pake, soalnya banyakan yang ngga pake. Waktu itu yang pake jas cuma 2 orang aja, banyak yang ngira ujannya pasti bakal makin kecil. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan tanpa pake jas hujan.

10 menit berjalan, dugaan kami salah besar. Hujan turun semakin deras. Dan disinilah penderitaanku dimulai. Motorku mulai terbatuk, gara-gara businya kena air hujan. Dan akhirnya, motorku berhenti tiba-tiba. Aku menepi, awalnya aku takut motornya ngga bisa hidup lagi, tapi pas ku coba selah, dia bisa hidup lagi dan baik-baik aja meskipun dalam hati aku tahu, motorku bermasalah. Tak kusangka, motor A Adul sama motor Pak Ketu juga menepi, sekitar 5 meter di depan pemberhentian ku. Mungkin mereka kira aku berhenti karena mau pake jas hujan karena hujan yang semakin mengguyur deras.

Aku ngga berani cerita kalo motorku mulai bermasalah, aku takut mereka khawatir. Meski takut terjadi apa-apa, aku simpan ketakutan itu sendirian. Bahkan sama Ina –yang aku bonceng- pun aku ngga berani cerita. Dan itu cukup menyakitkan. Aku jadi keinget Teh Sari. Kalo aku jalan sama dia, pasti dia langsung tahu kalo motorku bermasalah.

Tadinya Dikri ngajak istirahat dulu, karena waktu itu selain hujannya deras juga disertai angin. Dikri bilang kasian aku sama Ina. Sebenernya dia ngekhawatirin Ina, sampe-sampe dia rela ngga pake jas hujan karena dipinjemin ke Ina. *Duh, asli baik banget nih si Dikri ckckck. :D Tapi karena waktu itu udah hampir setengah enam sedangkan perjalanan masih jauh -kita berhenti juga ngga tau di daerah apa- jadi Pak Ketu memutuskan untuk lanjut aja. 

5 menit berjalan, jalanan menanjak. Dan pas aku oper, lagi-lagi motornya berhenti ngedadak. Ina mulai khawatir. Tapi pas aku selah, motornya hidup lagi. Kata bapak-bapak disana, ngga apa-apa asal gasnya jangan dikendorin aja. Dan dari sinilah penganiayaan terhadap motorku dimulai. Karena aku takut motornya mati lagi, aku nekat pake gigi 3 sepanjang perjalanan dan gas ngga aku kendorin. Kalopun keadaannya aku harus pelan, aku tetep tancap gas tapi sambil pasang rem. Aku cuma bisa ngedo’a “Ya Allah, kuatkan dan selamatkan motorku sampe rumah.

Di persimpangan Pamijahan, lagi-lagi temen-temen nunggu aku sama Ina yang ketinggalan. Dan meskipun aku sempat berhenti, mereka nyuruh aku duluan. Haha. Lucu juga sih. Aku selalu disuruh duluan tapi ujung-ujungnya tetep aku yang ketinggalan. Aku ngga peduli dibelakangku masih ada motor temen atau ngga. Yang waktu itu aku inget aku cuma punya Allah tempat aku meminta pertolongan.

Hari semakin gelap, dan ternyata 2 motor temenku masih ada dibelakang. Mereka menepi, aku ikut menepi juga. Pas kami berhenti, adzan magrib berkumandang. Dan setelah kulihat sebuah plang pesantren, aku tahu kami baru nyampe di Cibalong. Kami pun melanjutkan perjalanan. Waktu itu aku niatkan sholat magribku dijama’ takhir sama isya.

Sekarang hari benar-benar gelap, dan hujan masih belum berhenti. Sedangkan rute perjalanan Tasik-Pamijahan, ada yang tau? Rute hutan yang berkelok dan minim lampu penerangan. Untuk pencahayaan, saat itu Aku hanya percaya pada lampu motorku dan beberapa kendaraan yang melintas. Dan untuk pertama kalinya aku tau fungsi garis putih dan kotak alumunium’ yang dipasang di tengah jalan, sebagai petunjuk –ketika malam tiba- agar pengguna jalan tau harus belok kiri atau belok kanan.

Dan apesnya, garis putih di jalur ini hampir jarang ku temukan. Bahkan di suatu tempat, mataku yang udah perih karena terus disiram air hujan bener-bener ngga bisa liat jalan. Duh, kalau sampe salah belok kan bisa-bisa masuk jurang. “Ya Tuhan, hanya Engkau yang mendengar jeritan hatiku saat ini. Tolong selamatkan kami!” Air mataku meleleh bersama air hujan. Benar-benar penuh perjuangan. Satu hal yang saat itu sangat aku inginkan, aku ingin cepat menemukan jalan kota.

Sekitar satu jam setengah kami berjuang melawan jalan yang minim penerangan, mataku menangkap tulisan Polres Kawalu. Meskipun belum sempe Kota tasik, tapi setidaknya hati kecilku yakin daerah perkotaan akan segera kami temukan. Dan 15 menit kami berjalan, benarlah kami menemukan perempatan lampu merah lengkap dengan papan petunjuk arah. Yang sempat ku baca saat itu Lurus=pusat Kota, Belok Kanan=Cibereum, Cirahong. Namun karena lampunya keburu warna hijau, aku ngga punya waktu buat milih, akhirnya kujalankan motorku ke arah kanan, dimana terakhir otak dan mataku menangkap tulisan Cibereum, Cirahong. Tapi setelah aku pikir ulang, mungkin jalanan akan lebih aman ke pusat kota. Selain karena Cirahong penuh aroma mistis, disana juga ada beberapa tanjakan. Untuk motorku yang sedang bermasalah *duh bahaya kayaknya. Setelah berjalan cukup jauh karena sambil berdiskusi dengan Ina dan batinku sendiri. Akirnya kuputuskan puter balik ke lampu merah tadi.

Dan 100 meter arah lurus dari plang tadi aku langsung masuk JL. K.H. Zaenal Mustofa. Alhamdulillah, mungkin hanya Allah yang tau betapa senangnya aku saat itu. Apalagi setelah menemukan Asia Plaza dan ramainya suasana kota. Walaupun aku masih meraba jalan, karena belum faham benar jalan kota Tasik. Tapi setidaknya aku sudah menemukan peradaban. Dan akhirnya aku menemukan jalur Karang Resik –jalur keluar dari kota Tasik menuju Bandung ataupun Ciamis. Aku juga sempat isi bensin disana, karena sejak tadi motorku terus tancap gas jadi bensinnya boros. Mungkin temen-temen yang lain udah pada nyampe Ciamis, aku juga ngga tau bagaimana perjuangan mereka (walaupun pada sehari setelahnya, kata Dikri ngeliat aku ngisi bensin disana. Tapi aku ngga liat dia). Aku pun segera melanjutkan perjalanan. Jalur Tasik-Ciamis alhamdulillah ramai lancar.

Dan karena sejak tadi siang perut kami kosong –belum diisi nasi, baru diisi camilan, sepertinya aku dan Ina kelaparan. Setelah sampe alun-alun Ciamis, kami pun berhenti untuk membeli nasi goreng. Dan disinilah insiden terjadi, pas ina turun dari motor kudapati resleting tas Ina sudah membuka selebar-lebarnya. Keliatannya nya udah dari tadi. Dan benarlah beberapa isi tasnya hilang termasuk dompet yang berisi HP dan beberapa barang berharga lainnya.

Musibah emang bisa terjadi sama siapa aja, selain berusaha menenangkan Ina aku yang udah kelaperan dan kedinginan ngga bisa berbuat apa-apa. Untung ada Polisi Lalu Lintas yang juga lagi jajan. Ina minta saran deh sama Pak Polisi. Akhirnya, Ina diminta lapor dulu ke polsek Ciamis untuk menyatakan kehilangan.

Itulah sekelumit kisah perjalananku yang kurasa penuh dengan perjuangan. Karena aku nganter dulu Ina ke kantor polisi jadi aku tiba di rumah sekitar pukul setengah 10 malam, dan itu masih gerimis lho. Hm, lumayan sensasi dinginnya kehujanan selama 4 jam setengah masih terbayang sampe sekarang. Bahkan kalo sore-sore turun hujan deras, perjalanan ini selalu terbayang :)

Pelajaran yang kudapat pada perjalanan kali ini, kalo kalian mau melakukan perjalanan yang sangat jauuuhh

  1. Pastikan kendaraan kalian benar-benar oke. Kalau perlu service dulu. Bahaya juga kan kalo terjadi sesuatu yang ngga diinginkan dijalan.
  2. Jangan lupa bawa jas hujan! (kalo naik motor)
  3.  Pastikan bawa tas yang aman buat nyimpen bekal dan barang berharga!
  4. Meskipun pada kenyataannya (bagiku) emang cukup sulit. Tapi Lawanlah rasa takutmu! Karena percayalah sebagian besar rasa takutmu itu tak pernah terwujud.
  5.  Jangan bergantung pada sesama! Bergantunglah pada Sang Pencipta.
 Oke take care and be happy :D See you on next travel bye.bye ;)

Baca juga ==>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar