Selasa, 23 September 2014

Masalah! Siapa takut?



Hari ini, aku teringat kutipan keren dari Bapak Ishak
"Orang yang pandai itu, orang yang mampu mengatasi/mengantisipasi masalah
Dan orang yang pengecut adalah orang yang menghindari (lari dari) masalah"
bettul sekali! Seratus like deh buat buat bapak dosen ku yang paling kocak :)

Terkadang, kita MERASA menemui jalan BUNTU dalam upaya menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi. Dan, kita cepat merasa lelah dan menyerah sebelum masalah itu benar-benar terpecahkan. Bahkan mungkin seringkali, kita sempat berpikir memilih menggunakan jurus seribu langkah untuk lari dari masalah. Padahal, telinga kita sering mendengar, mata kita juga seringkali menemukan firman Allah yang berikut ini:

Laa yukallifullaaha nafsan illa wus'ahaa. Lahaa maktasabat wa 'alaihaa maktasabat
“Allah TIDAK MEMBEBANI seseorang KECUALI sesuai dengan batas keMAMPUannya. Baginya pahala untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya." (QS. Al-Baqarah 287)

Hanya keimanan yang mampu menerima kalimat tersebut. (Kalau keimanan saya sedang di titik terendah, seringkali saya lupa akan janji Allah tersebut. Yang saya ingat hanyalah, kenapa masalah ini teras begitu berat, saya rasa saya tak sanggup menyelesaikannya)

Salah satu teman saya pernah mengumpamakan hal ini seperti sebuah HP, semakin canggih dan banyak fiturnya, maka semakin banyak ancaman error dan virusnya, berbeda dengan HP yang cuma didukung java, dia aman dari virus, meskipun tetap ada kerusakan-kerusakan yang siap menanti. Namun yang pasti aman dari virus.

Begitu pun manusia, semakin banyak pengetahuannya, pengalamannya, hartanya, akalnya, pengaruhnya, maka akan semakin kuat pula cobaan-cobaan yang akan diterimanya, yang PERLU DIGARIS BAWAHI adalah: orang-orang yang Sekelas HP java takkan pernah diuji dengan virus seperti HP yang memakai OS (Operating System), sekali lagi mungkin inilah yang dimaksud dengan “BATAS KEMAMPUAN”.

Allah takkan pernah memberikan masalah secara sembarangan. Semuanya telah Ia ukur dengan kemampuan kita, semakin tinggi keinginan. Semakin keras saat ia jatuh. Dan satu lagi ada quotes keren bin penting :)
Jangan mengeluh masalahmu. Jika kamu merasa bebanmu lebih BERAT daripada yg lain, itu karena Tuhan melihatmu lebih KUAT daripada yang lain.

Meskipun dalam praktek nya tak semudah ketika kita menulis atau membaca. Tapi semoga kita bisa belajar menjadi orang pandai :) Semoga bermanfaat

Kamis, 18 September 2014

Semester Baru, Semangat Baru


Besok adalah hari pertamaku di semester lima -kalo dibandingin sama PT lain, emang bisa dibilang telat. Tapi, it's okay! no problem- :) Serasa jadi anak sekolahan lagi. Karena malam ini harus prepare.  Kalo kemaren2 masih penuh dengan keraguan. Semester sekarang harus lebih fokus kayaknya. Semangat. semangat. semangat ^_^

Just for me
Hmm. ternyata banyak yang mesti di ubah. Dari mulai pola pikir, gaya belajar. Jangan cuma ngeluh sama main-main aja lah. Kasian dong Ayah sama Ibu udah berjuang membiayai kuliah kamu. Dan terlepas dari semua keluhan kamu, jurusan yang tak sesuai keinginan lah, waktu kuliah yang sering keteteran lah dan keluhan lainnya, kelak kamu tetap akan diminta perTANGGUNGJAWABan atas GELAR apa yang kamu sandang. Pantas rasanya  kalo di Indonesia banyak lulusan sarjana yang menjadi pengangguran, karena mereka banyak ngeluh dan main-main kayak kamu. Ayo Semangat! Nggak sedikit kok temen-temen kamu yang jurusan nya tak sesuai impian. Dan kamu harus tau, mereka juga sama sedang berusaha bertanggung jawab atas apa yang mereka jalani sekarang.

Bersyukurlah! Mungkin kita tak menerima apa yang kita minta, tapi
Percayalah! -meskipun seringkali sulit untuk disadari- yang kita terima adalah apa yang benar-benar kita butuhkan

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)


and For Other :)

Kuliah, jangan sekedar kuliah
Kuliah harus punya gairah
Nggak sekedar lelah
Atau menggugurkan tanggung jawab dan rasa bersalah

Harus ada tujuan disana

Harus ada manfaat disana
Harus ada karya disana

Karena kita dikenal, bukan dari seberapa panjang gelar yang dipasang

Tapi seberapa mampu mempertanggungjawabkan ilmu yang berkaitan dengan gelar yang disandang


Ijazah sarjana bukan artinya jalan tol untuk mudah bekerja

Tapi sejatinya nya amanah untuk jadi orang yang berguna

Toga dikenakan bukan puncak kesuksesan

Karena hakikat sukses sejati saat kita diwisuda di akhirat sana


Tak seperti nilai di dunia yang masih bisa diubah

Namun sejatinya, di akhirat parameter kesuksesan diukur

dari seberapa benar dan baik kita menjalani hidup di dunia


Semoga kita bisa menjadi mahasiswa yang sukses,

bukan hanya di dunia, tapi juga selamat di akhirat.

Aamiin
_Setia Furqon Kholid
Spirit "Jangan Kuliah Kalau Gak Sukses"

Semoga bermanfaat ^_^

Rabu, 17 September 2014


Mungkin, di dunia ini masih ada orang yang tak percaya akan persahabatan sejati.
Tapi dari dulu aku percaya, persahabatan sejati itu benar-benar ada. :)
Persahabatan tak kan pernah terhapuskan masa.

Mereka bukanlah orang2 yang yang bisa menghilangkan semua masalah
tapi, mereka adalah orang2 yang tak pernah menghilang ketika kita tertimpa masalah

Aku selalu berharap semoga persahabatan kami tak hanya sekedar persahabatan di dunia
tapi sampai nanti di akhirat.

"Semoga, malaikat memeluk kalian erat, hingga tiba saatnya nanti
kita kembali pada Rabb dalam keadaan khusnul khatimah"
Amin. Amin. Amin Ya Rabbal Alamin

Berani itu


Saat kau mampu membalas, namun kau memilih tuk memaafkan.
Berani itu saat kau mampu mendua, namun kau memilih tuk setia.
Berani itu saat kau mampu menepuk dada, namun kau memilih berlapang dada...

Berani itu saat kau masih pantas membebani keluarga. Namun kau justru mandiri dan membahagiakan mereka.
Berani itu saat kau dapat memilih untuk malas dan menunda, tapi kau justru terus bergerak dan mencoba.

Berani itu saat kau mengatakan yang jujur, walaupun pahit.
Berani itu saat kau mengakui kesalahanmu, walau kau mampu untuk menutupinya.
Berani itu saat kau gagal mencapai sesuatu, namun kau tetap optimis dan bangkit kembali.
Berani itu saat kau berada di jalan kebenaran dan mengajak orang untuk benar, walau kebanyakan manusia memilih bangga dengan kesalahan.

Berani itu saat kau takut akan sesuatu, namun kau mencoba untuk menghadapinya.
"Percayalah, keberanian takkan mempercepat atau memperlambat kematian. Tetapi keberanianlah yang membedakan orang yang jiwanya masih hidup dengan yang perlahan meredup"

Sumber Inspirasi : Setia Furqon Kholid

Karena Wanita Istimewa


 

Kali ini aku ingin bercerita, tentang sebentuk makhluk yang begitu indah dan mulia. Ia istimewa. Ia berharga. Ialah wanita.

Wanita, aku, dirimu, kita, Alhamdulillah termasuk ke dalamnya. Adakah kita telah bangga terlahir ke dunia sebagai wanita? Ataukah kita justru bertanya, dan meminta, bisakah jika kita menjadi lelaki saja?

Aku, kamu, kita, mungkin punya cerita yang berbeda tentang menjadi wanita. Namun bagiku, satu dari sekian hal yang paling aku syukuri dalam hidup ini adalah terlahir sebagai wanita. Karena tentu, Allah tak berikan predikat wanita ini kepada orang yang tak dikehendaki-Nya. Hingga bagiku adalah kebanggaan tersendiri Allah izinkan untuk menjadi wanita seutuhnya.

Kau tahu? Wanita adalah makhluk yang istimewa. Allah sendiri yang berkata dalam surah an-Nisa agar wanita menjulurkan jilbab dan menjaga pandangannya. Untuk apa? Tentu saja untuk menjaganya. Karena wanita begitu berharga, Allah muliakan ia dengan menjadikan seluruh tubuhnya aurat kecuali telapak tangan dan wajahnya.

Tidak hanya itu. Wanita istimewa karena hanya ia yang Allah izinkan untuk bisa melahirkan dan menyusui anaknya. Dari rahimnya terlahir manusia-manusia pemimpin dunia, dari rahimnya lahir generasi-generasi penerus bangsa. Di tangannyalah terletak madrasah pertama. Ucapannya adalah doa yang mustajabnya langsung naik ke langit tujuh lapis. Maka jika ia “sempurna” niscaya anak-anaknya pun terjaga. Begitu pun sebaliknya.

Istimewanya wanita jangan lagi ditanya. Bahkan seorang kekasih Allah, Rasullah, ketika ditanya, “Kepada siapa aku harus berbuat baik, wahai Kekasih Allah?” “Ibumu, Ibumu, Ibumu, lalu Ayahmu,” jawabnya. Tiga kali disebut, menandakan begitulah kemuliannya.
Kemudian, ia juga sangat istimewa karena di “telapak”nya itu ada surga. Tentu kau tahu atau setidaknya pernah mendengar bagaimana indahnya negeri surga? Ah, betapa istimewanya ia. Allah izinkan keindahan nan abadi yang dirindukan hampir seluruh manusia itu ada di bawah telapaknya. Ya, karena wanita begitu istimewa.

Ada lagi. Mengapa Allah banyakkan bagian warisan lelaki dibanding warisannya? Bukan untuk merugikannya. Tapi justru karena warisan lelaki adalah milik ibu, saudara perempuan, anak, dan istrinya juga. Namun, warisan wanita? Hanya untuknya, tidak wajib dibagi ke siapa-siapa.

Bahkan yang semakin membuatku bangga menjadi wanita adalah karena Allah secara khusus memasukkan satu surat dalam firman-Nya yang dinamai-Nya an-Nisa yang berarti wanita. Apalagi kalau bukan karena wanita istimewa?

Terakhir dan yang sangat menggoda adalah bahwa Allah izinkan wanita mendapatkan sesuatu yang teramat istimewa yang tidak diberikan pada makhluk selainnya. Tentu kau pun pernah mendengar sabda Rasul, “Jika seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatan, dan taat pada suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia suka.” Masya Allah, betapa memang wanita itu mulia, berharga, dan istimewa.

Bukankah begitu lengkap dan sempurna Allah berikan keistimewaan pada wanita? Lantas, masih adakah dari kita yang menyesal telah terlahir sebagai wanita? Masih adakah dari kita yang berpikir ingin menjadi lelaki saja?

Syukurilah. Karena sejatinya, kita begitu istimewa. Dan jagalah, apa yang Allah izinkan hanya kita memilikinya. Hingga jika nanti dipanggil-Nya, semoga kita dalam keimanan yang sebaik-baiknya. Kemudian kelak di akhirat-Nya, Allah izinkan kita untuk menjadi salah satu dari bidadari surga-Nya. Semoga saja.

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.” (H.R. Muslim)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/05/02/50667/karena-wanita-istimewa/#ixzz33Abi7lx1
via Oki Setiana Dewi

Ketika Manisnya Ta’jil Harus Berujung Pahit


Ramadhan tiba,
Marhaban yaa Ramadhan
Marhaban ya Ramadhan
Marhaban yaa Ramadhan

Lagu religi yang dilantunkan oleh Opick tersebut seakan menjadi soundtrack Ramadhan yang tak lekang oleh waktu. Selain punya soundtrack, Ramadhan juga selalu mempunyai cerita. Apalagi ketika memburu ta’jil pasti ada cerita tersendiri di setiap hari nya. Dan Inilah ceritaku.

Semuanya berawal dari rencana acara buka bersama kampus.
Seperti yang terjadi pada Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, sejak sebulan yang lalu BEM merencanakan sebuah kegiatan bakti sosial bertema “Bagi2 Ta’jil Gratis dan Buka Bersama dengan Anak Yatim” . Meskipun aku ngga termasuk anggota BEM tapi aku semangat ikut. Berbeda dengan sahabatku, Rahman, dia termasuk anggota BEM tapi sayang untuk kegiatan baksos Ramadhan ini, dia ngga gitu minat.

Aku ngerti sih, kenapa dia sampe males ikut. Pasalnya  Sarah adiknya terkena penyakit typus dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Tapi aku masih ngga bisa terima, aku yang bukan anggotanya aja ikut masa Rahman yang anggota BEM ngga.

“Ini kan acaranya satu tahun sekali, pokoknya Rahman harus ikut. Kalo ngga dia pasti nyesel” pikirku singkat. Aku rayu dia. Dan Singkat cerita, akhirnya dia mau. “yes!” ucapku dengan gembira.

Hari H pun tiba, aku berangkat bersama Dilla dari kosan. Dan yang  lain di instruksikan untuk berkumpul dulu di mesjid Agung dekat taman kota. Aku pun segera mengirim pesan pada Rahman, memastikan bahwa dia akan benar-benar ikut.

Man, jd ikut? Kta udah otw lho

Dua menit kemudian Rahman menjawab.

Ya. Duluan aja. Gw ke rs dulu.
Bilang sama yg laen, ntar gw nyusul

Setelah yakin Rahman akan ikut, kami pun segera melesat ke Mesjid Agung. Sesampainya disana, teman-teman yang lain udah pada nunggu.

“Kirain, kita bakal duluan. Ternyata kita telambat ya Rin. Hihihi” celoteh Dilla.

“Kalian ini ya, ngga datang ke kampus, ngga datang ke acara, pasti telat!” gerutu Kak Andien salah satu kakak senior.

“Haduh, maaf Kak maaf. Tadi jalanan penuh, ini juga udah ‘nyelap-nyelip’ Kak” bela Dilla.

“Sudah sudah! Asal acaranya ngga ikutan terlambat” tutur seseorang menenangkan. “ Sekarang kita tinggal nunggu Rahman” lanjutnya.

“Rahman katanya mau nyusul aja Kak. Dia mau ke rumah sakit dulu katanya” aku baru berani bersuara.

“Ya udah, kalo gitu. Sekarang kita langsung aja ke Rumah Yatim. Terus nanti ta’jil ini kita bagiin sama para pengemis, pemulung atau orang yang kalian temui sepanjang perjalanan ke Rumah Yatim. Kalian mengerti?” jelas Kak Rio sang ketua BEM.
“Mengertii” semua pada manggut. Aku dan Dilla ikut manggut aja. Hehe.

Akhirnya tanpa Rahman, kami semua langsung berangkat. Masing-masing motor membawa satu kantong berisi 20 bungkus ta’jil yang siap untuk disebar. Sementara itu di rumah sakit, Rahman baru berangkat. Kebetulan, motor yang suka ia pake sedang diservis . Karena ngga ada angkot, akhirnya Rahman pake jasa ojeg.

Setiap Ramadhan, Jalanan sore hari pasti penuh tapi tetep lancar.
“Jalannya rame pisan ya bang” keluh Rahman.
“Iya nih. Biasa virus ngabuburit!” tutur tukang ojeg.

Motor dikendarai dengan kecepatan standar. Namun tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah mobil avanza melaju kencang. Menyalip dua mobil sekaligus. Dan

“Bang, awaas!” teriak Rahman. BRAAAK
Kecelakaan tak terhindarkan. Tukang ojeg dan motornya terpental ke tepi jalan, sementara Rahman terpental ke kaca bis yang melaju tepat di  belakangnya.

Seketika, Warga pun berbondong menghampiri tempat kejadian.  Tukang ojeg masih sadar, meski kakinya berlumuran darah. Namun sayang nyawa Rahman tak terselamatkan. Kami yang baru saja sampai di Rumah Yatim, langsung dapat kabar dari pihak kepolisian. Semua kaget luar biasa. Seketika itu juga, air mataku meleleh. Tak bisa berkata apa-apa. Terlalu berat bagiku, harus kehilangan seorang sahabat sebaik Rahman. Acara buka bersama pun digabung dengan acara do’a bersama untuk sahabat kami Rahman. Selamat Jalan Rahman. Allah menyayangimu teman.

Selasa, 16 September 2014

Ketika Mimpi itu Hilang



Aku senang merangkai mimpi. Meski, tak jarang mimpiku banting stir menjadi sebuah obsesi. Dan ketika mimpi menjadi obsesi, aku sering hancur karena obsesiku sendiri. Aku rasa dinding pembatas antara mimpi dan obsesi, itu tipis sekali. Tapi meski demikian, tetap saja ada sesuatu yang dapat kita bedakan. Ketika kita mempunyai mimpi kemudian berusaha untuk mewujudkannya namun ternyata kita gagal, kita tak kan pernah putus asa. Tetapi, ketika yang kita punya adalah obsesi dan ternyata kita tak bisa meraihnya, maka jangan salahkan siapa-siapa apabila kita hancur karenanya. Dan itulah yang dulu pernah aku rasakan.
Tanpa sengaja Februari 2013 -hampir satu tahun ya- aku membaca sebuah pengumuman beasiswa kuliah full S1 sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Meski ku sudah tercatat sebagai seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kotaku, aku tetap penasaran untuk mencobanya. Perkuliahan yang baru berjalan satu semester, jurusan yang aku ambil tak sesuai dengan harapan dan faktor finansialku yang kurang mendukung, seakan menjadi alasan utama yang memotivasiku untuk mengikuti proses seleksi.
Tak sedikit teman-temanku yang meragukan ketika ku ceritakan mimpiku ini, “Ki, Ki, kayaknya kamu kebanyakan mimpi deh, bangun dong! Ini dunia nyata bukan dunia mimpi” omel temanku yang mungkin sudah bosan mendengar mimpi-mimpi yang ku ceritakan. Tapi aku tak menyerah. “Namanya juga mencoba, asal bukan di jalan yang salah. Aku rasa itu fine-fine aja!” protesku dalam hati.
Singkat cerita, ku isi semua form pendaftaran dengan sepenuh hati. Semua persyaratan aku lengkapi, dan ku pastikan semua dokumenku berhasil terkirim. Tiga bulan lamanya aku menanti, menantikan pengumuman peserta yang lolos seleksi tahap pertama. Penantian panjang tak ku sia-siakan untuk berdo’a. “Ya Tuhan semoga aku bisa lolos dan diterima disana. Amin” do’aku setiap waktu. Aku ingin tunjukan pada mereka, bahwa ketika Kau sudah berkehendak maka tidak ada sesuatu pun yang mustahil di dunia ini.
Hingga sampailah pada saat yang ditunggu-tunggu, 14 Juni. Ya, tanggal itu terasa begitu istimewa untukku. Pengumuman seleksi tahap pertama. Dan ternyata, aku lolos. Alhamdulillah! Dari jumlah 854 pendaftar, aku termasuk ke dalam 64 peserta yang lolos seleksi tahap pertama. Senang sekali, tinggal satu tahap lagi. Test psikologi, IQ dan Interview. Namun kesalahan ku, kala itu aku diliputi keangkuhan luar biasa. Dalam hati, aku berkeinginan untuk menunjukan pada teman-teman yang meledekku bahwa aku bisa dan aku mampu.
Satu bulan kemudian aku melaksanakan test tahap kedua, via telepon. Aku berusaha semampuku untuk menjawab pertanyaan para interviewer. Tapi entah  kenapa kala itu, keinginanku tak terlalu menggebu-gebu. Do’a ku pun berputar arah, “Ya Tuhan, bila beasiswa ini baik untukku, maka mudahkanlah. Tapi bila beasiswa ini tak baik untukku, maka perlihatkanlah kekuasaanMu padaku”.
Singkat cerita, pengumuman penerima beasiswa pun dibuka. Dan ternyata, jauh di luar dugaanku, aku gagal. Oh, Tuhan langit serasa runtuh menimpaku. Seketika itu pula aku hancur bersama serpihan mimpiku. Keoptimisanku kini terkikis sudah, tak mampu ku memandang hari depan. Delapan peserta yang terpilih dari 64 peserta di seluruh Indonesia, cukup membuatku sadar bahwa ku bukanlah apa-apa disana. Tak lelah batinku menyadarkan, bahwa Allah mempunyai rencana yang lebih indah. Namun hati ini tetap buta dan tak mau sadar. Semua terasa gelap. Tak ada lagi masa depan indah bersama jurusan impian. Tak ada lagi cita dan harapan. Semua hilang.
Tak ada teman, tak ada tempat berbagi, kebetulan pada saat itu kegiatan kuliah dan pesantren sudah libur. Kalaulah Allah tak menolongku, mungkin saat ini aku sudah benar-benar gila. Tapi sekalipun Ia tak pernah meninggalkan hamba-hambaNya, meski mereka –termasuk aku- sering meninggalkanNya.
Anehnya, ketika aku terpuruk mendadak beranda-ku hampir terisi penuh dengan kata motivasi. Baik itu status ataupun tautan dari teman, dari fanpage, bahkan dari orang yang tak ku kenal. Oh Tuhan, mungkin ini caraMu untuk menyadarkanku. Sebuah petikan tautan yang sampai saat ini masih ku ingat:
“… ketika kenyataan tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Maka Allah menyuruh kita untuk sabar menunggu. Kita punya rencana. Allah punya rencana. Tapi sehebat apapun rencana kita. Tetaplah rencana Allah yang paling hebat. Yakinlah, kebahagiaan itu akan hadir pada waktunya. Sesuai rencanaNya. Sesuai rancanganNya. Hingga tak ada alasan bagi kita untuk meragukanNya”
Subhanallah! Luar biasa. Tautan tersebut cukup mengobati luka dan kepedihan. Namun belum sepenuhnya¸ aku masih memerlukan seseorang yang menenangkanku. Dan ku pilih beliau, yang selama ini selalu memberiku inspirasi. Bu Ani Herniawati, ya beliau adalah dosen Bahasa Inggris di kelasku. Aku segera mencari alamatnya. Sejauh apapun, aku tak peduli. Sempat tersasar, namun akhirnya tetap kutemukan. Dengan linangan air mata kuceritakan semuanya.
Dan seperti yang ku harapkan, ia mampu memberiku ketenangan. Ia ceritakan semua kisah pedih orang-orang hebat yang mampu melewati masa-masa sulitnya. Namun karena keterbatasan daya ingatku, aku tak dapat menyerap semuanya. Tetapi terlepas dari itu, semua cerita dan nasihatnya bak tetesan embun yang membasahi kegersangan hati.
Ia selalu yakin, sepahit apapun kepedihan yang kita rasakan. Entah kapan, bila waktunya tiba Allah akan menggantikannya dengan kebahagiaan, dengan cara apapun. Meskipun bukan kebahagiaan dari yang kita inginkan.
Aku pulang dengan hati yang lebih tenang. Aku yakin Allah selalu ada untukku, Ia tak pernah meinggalkanku, dan Ia mempunyai rencana yang lebih indah untuk hidupku. 30 menit setelah ku sampai di rumah, aku menerima sebuah pesan dari staff TU:
Sore ini Azkiya Islami ditunggu di kampus. Penting!”
Tanpa banyak berpikir, aku segera pergi. Sesampainya disana seorang staff TU -Pak Yadi- menyambutku dengan senyuman. Ia memberikan 2 lembar kertas. Apa ini? Pak Yadi pun mulai menjelaskan. Dan Subhanallah! Baru saja aku menangis tersedu mengingat kegagalanku, kini sebuah penawaran beasiswa hadir dihadapanku.
“Tapi jangan banyak berharap dulu, soalnya ini baru proposal. Dari sisi diambil 10 mahasiswa. Nanti di seleksi ulang. Mudah-mudahan bisa terpilih. Ini persyaratannya” tuturnya menjelaskan. Ia pun kembali memberikan selembar kertas yang berisikan beberapa persyaratan yang harus ku lengkapi.
“Ya Tuhan, semua ini begitu indah. Benarlah, tak ada lagi alasan untukku meragukan semua rencanaMu”
Itulah kisah yang ingin ku bagi, semoga bisa bermanfaat dan memberi sedikit inspirasi. Dan wajib kita ingat, yang Ia BERIkan mungkin BUKANlah apa yang kita INGINkan, TAPI apa yang kita BUTUHkan. Oh, iya satu lagi apabila kita ingin sukses disamping mempersiapkan kesuksesan, kita juga harus mempersiapkan kegagalan. Ok guys! Dan terakhir, do’aku sukses selalu untuk orang-orang yang tak pernah menyerah pada keadaan. : )