Jumat, 19 Februari 2016

Travel Story Part I (Pesona Alam Garut Selatan)

Haii blog walkers! Aku punya cerita. ^_^
*Sebenernya lagi males nulis, tapi berhubung daya ingatku rendah. Jadi kalau cerita-cerita amazing tak ku tulis, besar kemungkinan cerita itu akan hilang dengan mudahnya. Duh kalau sampe lupa, sayang banget kan. Makanya biar kata males-males plus masih menikmati sensasi pegel-pegel, aku tetep maksain nulis cerita ini. Oke check it out!

Ini cerita tentang traveling ku ke Pantai Santolo (ada yang tau Pantai Santolo?? Hm,, Kalo gitu… sama. Awalnya aku juga ngga tau. Haha) Itu lho yang pantai selatan letaknya di Pamengpeuk. (Kalo kata Pamengpeuk kayaknya sering denger ya?) Yupz, Pamengpeuk Kabupaten Garut. 

(Kalo kalian searching, kalian bakal nemuin gambar ini –Pantai Santolo. Gimana? Pantainya keren kan?)

Ceritanya, anak-anak di tempat ku kerja berencana mengisi hari minggu -7 Februari- yang indah ini dengan liburan ke pantai tersebut. Rencana awal sih, ke Pangandaran, Citumang tapi dengan beberapa alasan dan berbagai pertimbangan -yang aku ngga tau- akhirnya, anak-anak memilih untuk touring ke Garut Selatan.

Pas di kasih tau temen-temen mau liburan, aku semangat banget untuk ikut. Karena liburan panjang akhir tahun kemarin aku ngga berlibur sama sekali (suci, suci, kasian banget sih kamu) Tapi mendekati hari H minatku untuk ikut semakin berkurang, alasannya:
  1. Hari minggu sebelumnya -31 Januari- aku diajak liburan ke Pantai Pangandaran. Jadi hasrat berlibur ku sudah banyak terpuaskan.
  2. Lagi ngga enak badan setelah beberapa malam kurang tidur gara-gara mengerjakan kumpulan administrasi buat PPL.
  3. Ini yang paling utama, lagi terkena penyakit kanker kronis alias boke tingkat dewa :( duh, ckckck
Jadi pas dikasih konfirmasi, temen-temen mau touring ke pantai Santolo aku jadi mikir ulang.

Tapi ketika hari Sabtu aku pulang dari sekolah, ternyata ibu udah nyiapin selengkap-lengkapnya perbekalan. Mulai masak ayam, masak lontong, sampai buat bolu khusus untuk anaknya tersayang –perhatian banget kan ibuku ini :)- Kalau aku batalin, wah bahaya. Seengganya mungkin ibu bakal sedikit kecewa, temenku yang ngajak juga –Ina, namanya- pasti ngga bisa berangkat soalnya kita bakal touring pake motor sementara motornya udah pas berpasangan. Ditambah aku yang memang sedikit penasaran dengan alam Garut Selatan. Jadi ya terpaksa, ku putuskan untuk ikutaan. hehe

Awalnya sempet takut, seperti pertama kali mau berangkat ke Bandung tahun lalu. Takut rutenya penuh tanjakan sementara musuh terbesar motorku itu, ya tanjakan. Takut ketinggalan, soalnya kalo konvoi sama temen-temen kerja itu serasa lagi di arena balapan dan aku selalu dapet posisi yang terakhir. (Ngenes kan?) Hmm. Tapi aku ingat satu hal, bahwa 80% ketakutan itu hanya ada dalam pikiran, ngga pernah terjadi. (Jadi, Ayolah suci, come on! Berani. Berani. Berani)

Ina sempet nawarin pake motor barunya. Tapi aku ragu. Setidaknya aku punya beberapa pemikiran. Bawa motor sendiri itu tetep lebih nyaman daripada bawa motor orang. Kita tau kelemahan dan kekuatan motor kita dimana. Jadi kita bisa mengendarainya dengan lebih bijaksana. Truz motor Ina kan motor baru, kalo terjadi apa-apa takut ngga bisa bertanggung jawab (baca: pengecut ya)

Kami berangkat pukul 4 pagi. Pas berangkat, aku sama Ina akhirnya dipisah. Ketua rombongan -Wildan- mungkin merasakan hal yang sama, takut motorku ketinggalan. Jadi dia nyuruh anak prakerin –Lukman- buat bawa motorku, sementara aku? Dibonceng aja ya. Aku percaya Lukman bisa ngebut bawa motor dengan catatan kalo motor biasa. Tapi kalo bawa motorku, sepertinya aku ngga bisa percaya gitu aja. Secara, motorku kan luar biasa. Aku bilangin kelemahan motorku. Dia cuma manggut-manggut aja. Ya udah terpaksa, aku berusaha percaya.

Baru berjalan sekitar 2 km, rombongan berhenti di pom bensin. Sementara aku seperti biasa, ketinggalan. wkwkwkwk. Lukman kesulitan ngoper gigi guys. Di pemberhentian ke 2 pun sama, temen-temen yang lain terpaksa nungguin aku sama Lukman. Disini Lukman sempet kena semprot teman-teman gara-gara selalu ketinggalan. Ckckck. Kasian juga sih tapi udah berkali aku bilang, kalo Lukman ngga sanggup jangan dipaksa, biar aku yang bawa. Tapi Lukman tetep maksa bawa. Hingga akhirnya di pemberhentian ke 3 –setelah kita solat subuh- Lukman menyerah haha. Dia sempet minta temen yang lain buat bawa, tapi ngga ada yang bisa (baca: ngga ada yang mau ya). Ya udah aku maksa rebut kendali secara paksa. Mungkin dia khawatir, aku ngga bisa bawa. Hmm dia belum tau aja, biar gini-gini juga aku kan adeknya A Vale. Right? :)

(Bergaya dengan motorku tersayang :))

Setelah melewati pemandangan indah -entah dimana- yang pasti ada tugu perbatasan Kab. Tasik, rombongan berhenti lagi untuk yang ke 4 kalinya. Dua motor tertinggal, karena ada motor yang bannya bocor. Jadi kita nunggu mereka sambil sarapan. Tapi karena bocornya masih di jalur hutan, jadi mereka kesulitan menemukan bengkel untuk tambal ban. Ahkirnya, Pak Ketu memutuskan untuk menunggu mereka di depan, di jalur potong –aku ngga tau nama tempatnya apa. Dan kami pun berhenti di sana.

Setelah menunggu sekitar 20 menit. Yang ditunggu  –motor A Juju sama Iskandar- pun tiba.  Sebelum melanjutkan perjalanan, Wildan sempat minta Lukman bawa motorku kembali. Katanya jalannya rusak, berbelok-belok pula. Tapi kalo Lukman yang bawa, aku yang khawatir. Di jalan yang lurus aja, dia kerepotan ngoper gigi, apalagi di jalan rusak. Jadi aku minta sama Lukman, biar aku yang bawa. Lukman pun akhirnya setuju. (Aku penasaran, emang jalannya serusak apa? Kalo belum se-ekstrim jalan Tanjung Sukur-Rajadesa kayaknya aku masih bisa. Dan ternyata benar, rusaknya masih level biasa)

Di sepanjang jalan yang kata Wildan rusak itu, mata kami kembali disuguhi oleh pemandangan yang tak kalah indah dari pemandangan pegunungan Himalaya :) Setelah sekitar 20 km berjalan, kami kembali berhenti untuk yang ke 6 kalinya di sebuah pom bensin –entah dimana. Karena sepertinya Pak Ketu juga belum tau arah menuju Pantai Santolo kemana. Ckckck. Tersesat? Ngga lah. Kita kan bocah-bocah petualang haha. Setelah 5 menit beristirahat dan berfoto dengan background pegunungan, kami pun melanjutkan perjalanan.

Di rute selanjutnya, kami mulai memasuki kawasan berkelok. Pertama kali yang membuatku takjub ketika melewati kawasan ini yaitu ketika melihat sebuah ‘gunung batu’. Ya sebuah batu besar, karena saking besarnya batu itu lebih mirip gunung batu. Tapi asli lho, subhanallah sekali.

Dan belum selesai kami dibuat takjub dengan fenomena alam tersebut, mata kami kembali dimanjakan dengan pemandangan yang indah luar biasa. Saking indahnya, saya sulit mengungkapkannya dalam kata-kata. Dari mulai perkebunan teh yang membentang sampai  air terjun semuanya kami temukan disana. Pokoknya indah luar biasa. Banyak lho, orang-orang yang berhenti di sepanjang jalan sana untuk sekedar menikmati keindahan dan berfoto ria bersama rombongan.
 
(diantara sebagian keindahan perjalanan menuju Pantai Santolo Pameungpeuk-Garut)

Kami juga sempat berhenti -sambil menunggu teman yang tertinggal- untuk mengabadikan moment di tempat yang langka ini. Tapi sayang, pak ketu sepertinya kurang tepat memilih  tempat pemberhentian. Jadi indahnya kawasan ini tak terlalu nampak.


Setelah rombongan lengkap dan puas berfoto. Kami melanjutkan perjalanan. Meskipun kami tak tau posisi kami berada dimana, tapi dapat diperkirakan perjalanannya kami tempuh masih panjang. (Tau darimana?) Ya, tujuan kita kan mau ke pantai, sementara kita masih terdampar di daerah pegunungan. Tanda-tanda ada pantai aja belum keliatan. Ckck *Sekedar informasi, ketika kami berhenti di sana. Waktu sudah menunjukan pukul 09.30.

Dan ternyata ehh ternyata, rute mengular -pegunungan itu- panjang sekali. Dan apesnya kantong bekal makanan dan air yang ku bawa dari rumah jatuh di tengah jalan. Mau puter balik buat ngambil, pasti makin ketinggalan rombongan. Ngga diambil, inget sama ibu yang udah nyiapin bekal itu dari jam 2 malam. Tapi, daripada ketinggalan rombongan akhirnya ku relakan bekal ku tergeletak begitu saja di tengah jalan. Pikirku, toh aku masih punya kue dan lontong buat cadangan makanan kalo nanti aku kelaparan. (Maafkan anakmu yang tak bisa menjaga bekalmu bu)

Satu jam berjalan, lumayan juga pantat udah panas gara-gara duduk kelamaan. Ditambah salah satu personil –Teh Vitra- sakit, jadi kami pun kembali berhenti untuk beristirahat. Karena lapar, kami kembali membuka bekal. Aku sendiri, waktu itu nyari bengkel buat nambah angin. Sambil nanya ke penduduk sekitar, ternyata perjalanan menuju Pantai Santolo masih jauh katanya sekitar 15 km lagi. Dan satu fakta yang kembali kami temukan, jalur yang kami tempuh ini memang berputar. Kalau dari Ciamis, ngambil jalurnya lebih dekat Jalur Tasik-Pamijahan-Cipatujah. (Ohh pantes aja udah hampir 7 jam kita belum nyampe juga, ternyata emang salah ambil jalur katanya. Ckckck) Tapi ada untungnya juga sih, kita jadi tau di dunia yang mulai panas ini masih ada tempat-tempat seindah tadi :)

Pada permberhentian ke 9 ini sempat terjadi insiden kecil, motor anak prakerin –Iki- nyenggol mobil. Ngga sampai terjadi apa-apa sih, tapi cukup membuat Ina nangis gara-gara shock. Akhirnya Ina pindah ke motorku dan Lukman pindah ke motor Iki. Setelah sekitar 15 menit beristirahat kami pun melanjutkan perjalananan.

Sekitar setengah jam perjalanan dari pemberhentian terakhir, kami menemukan tanda-tanda daerah pantai –udara mulai terasa panas dan banyak sungai. Akhirnya, setelah 7 jam perjalananan kami sampai juga di pantai yang kami cari, Pantai Santolo. Rasa senang ketika menemukan tulisan ‘Selamat Datang di Kawasan Pantai Indah Santolo’ sampai saat ini, masih bisa kurasakan. Bagaimana tidak, tujuh jam perjalanan yang kami tempuh cukup membuat ku kelelahan. *fiuhh

Kami membeli tiket masuk. Harganya 6000 per orang (Murah ya?) Sambil menunggu personil lengkap kami menepi di dekat pintu masuk. Dan ternyata biar hari sudah siang, para pengunjung yang masuk masih ramai. Itulah cerita perjalanan keberangkatan yang amat melelahkan.

Baca juga: 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar